oleh

OPINI : Lailatur Qadar Ala Covid 19

-Pendidikan-15 1500 views

OPINI : Lailatur Qadar Ala Covid 19

Oleh : Syamsul Bachri Maliki

Memasuki malam –malam terakhir Ramadhan umat Islam, didorong untuk melaksanakan I’tikaf di Masjid, biasanya akan semakin ramai memasuki malam-malam ganjil di akhir bulan ramadhan. Untuk tahun ini kiranya ada paradigma baru yang mengubah tradisi umat Islam itu, untuk berkumpul dimasjid-masjid dan langgar-langgar untuk daerah-daerah tertentu.

Rasionalitas Vs Imanen, itulah sebenarnya yang ingin kita bangun pada tulisan opini hari ini. Virus Corona mewakili Rasionalitas. Kita yang hidup di era, yang mengedepankan rasionalitas, tentu harus  mengedepankan sinyal-sinyal dan symbol-simbol rasionalitas ini. Sadar atau tidak sadar, keperkasaan rasionalitas, menggeser sekejap peradaban yang telah di bangun 1400 tahun lalu. Secara sederhana ingin disampaikan bahwa dengan adanya covid 19, yang secara lahir tidak bisa ditangkap dengan mata telanjang, telah memporak-porandakan nilai nilai substansi yang telah terbangun di masyarakat.

Manusia kembali kemasa bar bar, betapa mulia dan terhormatnya seorang warga bumi, apabila telah melekat covid 19 dan dinyatakan meninggal, maka warga bumi akan kembali keharibaan ilahi, tanpa kemuliaan dan kepantasan yang telah dibangun berbad abad.

Lailatur Qadar, adalah sisi imanennya. Sehebat apapun argument yang disampaikan untuk mempresentasikan masalah keimananya ini selalu ada jalan untuk berdamai “darurah”. Tapi bagaimana imanen bisa dicapai dalam kerangka “darurah” ini.

Dalam pemahaman awam masyarakat muslim , I’tikaf dalam bahasa Arab, yang berarti menetap, mengurung diri atau terhalangi, pengertiannya dalam konteks ibadah dalam Islam adalah berdiam diri di dalam masjid dalam rangka untuk mencari keridhaan Allah SWT dan bermuhasabah atas perbuatan-perbuatannya.

Dalam menjalankan I’tikaf ini, sebenarnya secara individual adalah masalah rasa, bagaimana jamaah tabliq yang tanda kutip tingkat imanennya begitu tinggi, dalam perspektif covid 19, malah bertolak belakang.

Konsep “darurah” sebagai jalan tengah, dalam hadits Abu Sa’id Al Khudriv RA, Rasulullah SAW bersabda bahwa Bumiini semuanya merupakan masjid ( Tempat sujud untuk shalat), kecuali kuburan dan WC. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman “ Hai hamba-hamba KU yang beriman, sesungguhnya bumu Ku luas, maka sembahlah Aku saja “.(Al Ankabut : 56)

Hadits dan  firman diatas merupakan jalan tengah bahwa dari segi perspektif ibadah bisa dijalankan untuk mencapai keutamaan masa-masa akhir ramadhan. Covid 19 tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, menghadapi masa-masa sulit rambu-rambu peradaban telah dibangun secara darurat dan kita semua mematuhi dan menjalaninya, bagaimana persoalan imanen untuk mencapai malam kemuliaan : Sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan ada berbagai keutamaan  yang  akan kita dapatkan antaranya : Malam yang penuh keberkahan, Malaikat turun untuk mengatur segala urusan, Malam Seribu bulan, Lailatul Qadar adalah waktu diturunkannya Al-Qur’an, Lailatur Qadar adalah malam keselamatan, Lailatul Qadar adalah malam dicatatnya takdir tahunan, Allah mengampuni dosa orang yang menghidupkan malam lailatul Qadar.Ada tujuh keutamaan malam lailatul Qadar. Susun strategi dan cara untuk mencapainya, prosedur “darurah” merupakan jalan untuk berdamai dengan rasionalitas dan imanen.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed